Home / Politik / Gerakan HTI dan Gagasan Politik tentang Khilafah – Detikcom

Gerakan HTI dan Gagasan Politik tentang Khilafah – Detikcom

Selasa 30 Mei 2017, 19:21 WIB Gerakan HTI dan Gagasan Politik tentang Khilafah Kanavino Ahmad Rizqo – detikNews Gerakan HTI dan Gagasan Politik tentang KhilafahDIskusi soal Hizbut Tahrir Indonesia (Vino/detikcom) Jakarta – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menjadi perbincangan yang masif bagi masyarakat Indonesia setelah pemerintah berencana membubarkan organisasi tersebut. HTI dianggap sebagai organisasi kemasyarakatan yang mempunyai cita-cita politik berupa pendirian khilafah.
Penulis buku 'Membongkar Proyek Khilafah ala Hizbut Tahrir Indonesia', Ainur Rofiq Al-Amin, mengungkap beberapa pola gerakan yang dilakukan oleh HTI. Ainur mengaku pernah menjadi anggota HTI namun keluar setelah melalui berbagai pertimbangan.
Ainur lantas mengatakan adanya relasi antara HTI dan kekhawatiran kekerasan yang ditimbulkan oleh gerakannya. Kekerasan yang dimaksud berupa kekerasan verbal yang bisa menjalar ke semua orang.
"Saya menyebut dalam konteks dakwah tadi, ada umat Islam kemudian ada di tengah ini ada HT, dipinggirnya para khilafah-er, para pecinta khilafah, atau ada yang lain, yang simpatisan ide HT," ujar Ainur, di D'Hotel, Jl Sultang Agung, Jakarta, Selasa (30/5/2017).
Dalam pola seperti itu, Ainur mengkhawatirkan HTI menyebarkan ide-ide bahwa, selain khilafah, dianggap buruk. Akhirnya orang menganggap sistem seperti demokrasi tidak layak dan dinilai bertentangan.
"Menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan ide Hizbut Tahrir," tuturnya.
Setelah itu, masyarakat juga dikhawatirkan berlaku mengkafir-kafirkan orang lain karena berbeda pandangan. Menurut Ainur, nasionalisme saja bahkan dicap buruk oleh HT.
"Nasionalisme menurut HT sangat buruk," ucapnya.
Di tengah kondisi mengkritik demokrasi habis-habisan dan nasionalisme yang dianggap buruk, HTI kemudian menawarkan sebuah solusi, yaitu khilafah. Mereka menolak sistem yang ada karena bertentangan dan menganggap khilafah sebagai satu-satunya jalan untuk menuju perubahan.
"Kemudian mereka akan menawarkan solusi satu-satunya khilafah, solusi segala macam hal," imbuh Ainur.
Ainur justru mengimbau massa dari HTI untuk tidak menghabiskan energi dengan terus menyuarakan gagasan khilafah. Dia meminta anggota HTI mengisi negara ini dengan kerja yang dapat menghasilkan perubahan.
"Metode yang dilakukan gerakan memungkinkan terinspirasi menjadi gerakan keras, saya sarankan ke HT (Hizbut Tahrir), mari semangat Anda yang menggebu itu untuk membangun NKRI," tuturnya.
Sementara itu, dosen Universitas Paramadina, Novriantoni Kahar, mengaku heran terhadap pola gerakan HTI yang memiliki ide politik namun berbaju ormas. Menurut Novri, hal itu pulalah yang menjadikan HTI mudah masuk kampus dan merekrut anggota.
"HTI partai, partai yang menyaru menjadi ormas, partai yang menyamar menjadi ormas. Tentu kalau partai yang berlaku UU kepartaian dan tidak bisa masuk kampus," ujarnya.
Novri kemudian menjelaskan kerancuan ide yang digagas HTI dengan penyematan kata 'Indonesia' setelah Hizbut Tahrir. Menurutnya, sebagai gerakan transnasional yang melampaui sekat negara, seharusnya Hizbut Tahrir tidak perlu menyematkan kata 'Indonesia'.
"Menjadi HTI itu seperti sebuah kontradiksi, sebuah partai yang berasumsi menjadi partai global, transnasional tanpa disekati sekat-sekat bangsa yang ingin menciptakan sebuah kekhilafahan global, menyematkan sebuah kata Indonesia itu sebagai sebuah yang tidak biasa," ungkapnya.
(knv/rvk)Sumber: Google News

About Redaksi

Check Also

Fadli Zon Anggap MK Dimasuki Kepentingan Politik bila Tak Hapus … – KOMPAS.com

KOMPAS.com Fadli Zon Anggap MK Dimasuki Kepentingan Politik bila Tak Hapus …KOMPAS.comJAKARTA, KOMPAS.com – Wakil …