Home / Politik / Gus Yusuf: Selama Ini Negara Beri Peluang Kelompok Radikal – BeritaSatu

Gus Yusuf: Selama Ini Negara Beri Peluang Kelompok Radikal – BeritaSatu

Pengasuh Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, KH Muhammad Yusuf Chudlori yang akrab disapa Gus Yusuf (kanan) berbincang dengan Redaktur Nasional "Suara Pembaruan" Willy Masaharu di gedung Berita Satu Plaza, Jakarta, Rabu, 31 Mei 2017. Gus Yusuf: Selama Ini Negara Beri Peluang Kelompok Radikal

Pengasuh Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, KH Muhammad Yusuf Chudlori yang akrab disapa Gus Yusuf (kanan) berbincang dengan Redaktur Nasional "Suara Pembaruan" Willy Masaharu di gedung Berita Satu Plaza, Jakarta, Rabu, 31 Mei 2017. (Suara Pembaruan)

Jakarta – Selama ini negara dinilai memberi peluang bagi kelompok-kelompok radikal untuk tumbuh dan berkembang biak di Tanah Air. Negara seharusnya jangan diam, apalagi memberi angin kepada kelompok-kelompok seperti itu untuk menanamkan bibit radikalisme, terutama di kalangan generasi muda.

Hal itu dikatakan pengasuh Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf kepada BeritaSatu.com di gedung Berita Satu Plaza, Jakarta, Rabu (31/5).

"Negara kadang-kadang masih suka 'genit'. Dulu, kelompok radikal dan anti-Pancasila, seperti HTI, diberi kesempatan untuk berkembang. Kami, umat Nahdlatul Ulama (NU) yang terus melawan mereka di lapangan. Negara belakangan baru hadir. Agak terlambat," ujarnya.

Dikatakan, negara jangan pernah ragu untuk menindak kelompok-kelompok seperti itu. Sebab, pada prinsipnya, negara berkewajiban memberikan rasa aman kepada masyarakat. "Negara harus bisa memberikan jaminan bagi kelangsungan perekonomian. Jadi, siapa saja yang mengganggu keamanan, perekonomian, negara harus segera bertindak," ujarnya.

Menurutnya, dalam menindak kelompok radikal, negara jangan pernah takut disoroti masalah hak asasi manusia. Jika langkah-langkah tegas negara itu berdasarkan hukum dan perundang-undangan yang berlaku, maka tidak akan ada masalah.

"Lihat saja Malaysia. Mereka negara Islam, tetapi memiliki aturan yang keras dan tegas terhadap kelompok-kelompok radikal. Mereka tidak ingin keamanan negaranya digangggu oleh kelompok seperti itu, yang bisa mengganggu perekonomian," tuturnya.

Gus Yusuf juga mengingatkan, memahami Islam dengan baik harus melalui sejumlah tahapan. Pemahaman Islam yang utuh dan benar tidak bisa dilakukan secara instan.
"Kita sebagai umat Islam harus memahami Islam secara komprehensif. Sekarang banyak masyarakat kita yang memahami Islam secara instan. Ayat-ayat Alquran hanya dipiih yang serem-serem saja. Sementara, di Alquran yang tebanyak justru menjelaskan tentang akhlak, budi pekerti, kemanusiaan, dan yang lainnya. Itu tidak dibaca. Yang sering dibaca ayat tentang jihad, itu pun dimaknai secara sempit," ujarnya.

Dikatakan, untuk dapat memahami Islam dengan baik dan benar maka umat harus kembali ke pendidikan pesantren. Sebab, selama ini, masyarakat digiring hanya untuk mempelajari urusan keduniaan. Ketika menemui jalan buntuk baru kembali ke agama.

Gus Yusuf juga mengatakan, kita adalah orang Indonesia yang beragama, bukan orang beragama yang kebetulan menjadi orang Indonesia. "Jadi, dalam konteks ini, kita, seluruh warga Indonesia, apa pun agamanya, harus menjaga rumah besar ini bersama-sama," katanya.

Dia juga mengakui bahwa selama ini kalangan umat Islam yang toleran terlena. Mereka mengalami semacam sindrom mayoritas, sehingga tidak menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya ketika kelompok-kelompok radikal yang membawa ajara agama kian membesar.

"Ini harus menjadi instropeksi terhadap ormas Islam besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Ini sindrom mayoritas. Kelompok mayoritas terlalu terlena," ujarnya.

Asni Ovier/AO

BeritaSatu.com

Sumber: Google News

About Redaksi

Check Also

Fadli Zon Anggap MK Dimasuki Kepentingan Politik bila Tak Hapus … – KOMPAS.com

KOMPAS.com Fadli Zon Anggap MK Dimasuki Kepentingan Politik bila Tak Hapus …KOMPAS.comJAKARTA, KOMPAS.com – Wakil …