Home / Indonesia / Menguak Eksistensi Kelompok Radikal JAD di Indonesia – Detikcom

Menguak Eksistensi Kelompok Radikal JAD di Indonesia – Detikcom

Senin 29 Mei 2017, 12:50 WIB Menguak Eksistensi Kelompok Radikal JAD di Indonesia Niken Purnamasari – detikNews Menguak Eksistensi Kelompok Radikal JAD di IndonesiaFoto: Zaki Alfarabi Jakarta – Dua pelaku bom di Kampung Melayu, Ikhwan Nur Salam dan Ahmad Syukri disebut sebagai kelompok teroris yang tergabung dalam sel Mudiriyah Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bandung Raya. Kelompok ini juga salah satu pendukung utama ISIS melalui Bahrun Naim.
Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Taufik Andrie mengatakan, kelompok radikal tersebut tergolong yang paling aktif dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut dapat dilihat dari sejumlah serangan dan teror yang dilakukan dari JAD. Yang terbaru yakni dalam ledakan bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur.
"Kelompok ini sebenarnya memang diakui sebagai salah satu kelompok paling aktif di Indonesia saat ini dalam dua tahun terakhir. Serangan yang muncul di Jakarta dan tempat lain didominasi kelompok ini. Hubungan langsung dengan orang Indonesia yang ada di Suriah tidak begitu kelihatan," ujar Taufik saat berbincang dengan detikcom, Senin (29/5/2017).
Melihat pola penyerangan yang terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, Taufik menilai, perencanaan hingga pendanaan dilakukan langsung oleh anggota yang berada di Indonesia.
"Belajar dari tahun sebelumnya banyak serangan yang seolah terkait Bahrun Naim. Dari fakta persidangan terlihat sifatnya domestik, dalam artian seperti perencanaan, pelaku pendanaan di lakukan di Indonesia. Kalau ISIS ada klaim sebagai dalang, ya itu semacam mengambil kredit keberhasilan. Di Indonesia atau di tempat lain biasanya ada klaim seperti itu," imbuhhnya.
Pola Perekrutan
Semakin berkembangnya zaman, pola perekrutan anggota yang masuk ke dalam jaringan ekstremis seperti JAD juga kian berkembang. Kebanyakan dari mereka dibaiat hingga mendapat pelatihan secara online. Tidak lagi melalui tatap muka seperti yang telah dilakukan sebelumnya.
"Kalau dulu platformnya one by one mentoring yang lama, mentoring dengan materi diklat, sekarang berbeda. Prosesnya lebih cepat, doktrinasi lebih cepat. Bisa melalui berbagai medium baik online maupun offline. Ini kelompok yang aktif melalui platform sosial media atau digital,' kata Taufik.
Pola perekrutan secara online tersebut juga dinilai lebih efektif dan mudah dijangkau bagi calon anggota jaringan. Untuk sasaran calon anggota, Taufik mengatakan, kelompok ekstremis seperti JAD memang lebih banyak yang menyasar mereka dengan tingkat pendidikan dan perekonomian ke bawah.
"Sasaran profil individu bersangkutan tampaknya mengarah ke tingkat pendidikan dan perekonomian pada medium ke bawah. Ada fakta berbeda orang-orang yang berangkat ke Suriah bergabung dengan ISIS ada tingkat pendidikannya yang tinggi. Jadi faktornya tidak tunggal. Faktor paling kuat ini tindakan mulia akan berbalas surga. Ada kemarahan, ada balas dendam dan doktrin membalas," jelas Taufik.
Polisi Jadi Sasaran Penyerangan
Dari sejumlah teror yang dilakukan JAD, sasaran mereka lebih banyak ditujukan kepadap petugas kepolisian. Taufik mengatakan, polisi memang menjadi musuh bagi kelompok tersebut sejak 3-4 tahun terakhir dengan alasan hukum yang diterapkan tidak sejalan dengan Islam.
"Kelompok pendukung ISIS merasa bahwa polisi ini kan aparat hukum yang mempraktikan hukum selain hukum syariah, hukum kafir yang harus diperangi. Ada lingkaran kekerasan yang tidak pernah selesai. Polisi menembak atau membunuh para tersangka, di sisi lain mereka (anggota jaringan) membalas dengan cara yang sama," jelas Taufik.
Seperti yang terjadi di Kampung Melayu pada Rabu (24/5) malam. Dua pelaku melakukan bom bunuh diri yang menyebabkan tiga orang polisi tewas. Serangan-serangan lain yang ditujukan ke polisi juga dilakukan JAD seperti di Tuban hingga penyerangan terhadap Kapolsek Tangerang beberapa waktu lalu.
Law Enforcement Jadi Salah Satu Solusi
Memberantas jaringan terorisme di Indonesia hingga ke akar-akarnya memang bukan perkara mudah. Namun Taufik mengatakan, melalui penegakkan hukum yang tegas dan tepat dapat menjadi hal yang efektif.
"Law Enforcement itu satu-satunya yang efektif. Kalau membuat orang tidak jadi teroris, itu lebih susah dan sifatnya multi dimensi karena berkaitan dengan lingkungan sosial, keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan dan lebih kompleks," jelas Taufik.
Sementara untuk revisi Undang-Undang Terorisme sendiri, kata Taufik, memang perlu dilakukan. Ada beberapa hal yang perlu disesuaikan dan dicari rumusan seimbang agar tindak terorisme di Indonesia dapat dicegah dan mendapat hukuman yang setimpal.
"Ada banyak instrumen dalam UU terorisme. Harus dicari lebih balance misal penangkapan yang tidak terlalu lama, pengungkapan yang lebih efisien, makin cepat dan makin menguak jaringan yang lebih bagus. Ada juga isu mengenai orang-orang yang terkait dengan Suriah lalu ke Indonesia. Ada beberapa lubang yang harus ditambal," tutupnya.
(nkn/erd)Sumber: Google News

About Redaksi

Check Also

Presiden PKS: Kami Ingin Jadikan Jakarta Seperti Istanbul – Detikcom (Siaran Pers) (Pendaftaran)

Selasa 25 Juli 2017, 13:27 WIB Presiden PKS: Kami Ingin Jadikan Jakarta Seperti Istanbul Yulida …