Home / Politik / TGB dan Tantangan Politik Identitas – SUARA NTB

TGB dan Tantangan Politik Identitas – SUARA NTB

TGB dan Tantangan Politik IdentitasTGB dan Tantangan Politik Identitas Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi TGB dan Tantangan Politik Identitas

30 Mei 2017 11:34 SUARANTB.com

Oleh: Agus Talino POLITIK identitas sesungguhnya bagi Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi –akrab disapa TGB—sudah selesai. Artinya, siapa saja boleh menggantikannya sebagai… TGB dan Tantangan Politik Identitas

Oleh: Agus Talino

POLITIK identitas sesungguhnya bagi Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi –akrab disapa TGB—sudah selesai. Artinya, siapa saja boleh menggantikannya sebagai gubernur. Tidak ada urusannya dengan asal usul. Yang penting mempunyai kemampuan sebagai pemimpin. “Baju” politik TGB tidak mempunyai tempat untuk disesaki oleh politik asal usul. TGB sudah menjadi tokoh penting pada panggung politik nasional yang diharapkan menjadi “sinar” untuk menerangi anak bangsa yang beragam.

Pada suatu kesempatan, saya pernah mendengar TGB berbicara tentang penggantinya. Dalam doanya katanya, dia berharap tokoh yang menggantikannya adalah tokoh yang beribu-ribu kali lebih baik dari dirinya. Pertimbangannya, tentu karena TGB memahami benar, bahwa tanggung jawab pemimpin itu tidak ringan. Menjadi gubernur bukan untuk gagah-gagahan. Apalagi untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Karena itulah, dalam memilih pemimpin memerlukan kejernihan hati dan pikiran. Tidak boleh pertimbangannya pragmatis. Politik pragmatis bukan saja tidak baik. Bisa menjerumuskan. Bahkan bisa “membunuh” masa depan dan memalukan. Kita tidak boleh salah melangkah dalam mengambil keputusan. Hidup itu sebab akibat. Ada hukum alam yang bekerja. Kita menabur kita menuai, kita menanam kita memetik.

Tantangan TGB dan kita semua dalam membangun kesadaran masyarakat, agar cerdas memilih pemimpinnya masih berat. Politik identitas masih relatif kuat. Politik asal kawan sendiri masih ada. Padahal memilih pemimpin tidak bisa pertimbangannya, asal kawan sendiri. Apalagi asal satu kampung. Akibatnya, bisa merugikan orang banyak. Pemimpin tidak boleh “tergelincir” hanya sebatas mengurus kawannya sendiri. Karena pemimpin itu milik semua. Bukan hanya milik kelompok tertentu.

Godaan terhadap kekuasaan sangat besar. Mungkin karena kekuasaan itu “gurih”. Tetapi kita tidak boleh kehilangan akal sehat. Kita harus bisa mendidik dan memberi contoh yang baik bagi masyarakat dalam memilih pemimpinnya. Karena politik itu bukan sekadar kata-kata. Politik adalah contoh dan teladan.

Maksudnya, kita tidak bisa bicara tentang hal-hal besar. Tetapi praktik politik kita, “mainannya” kecil. Logikanya, jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang hebat, kita harus pula melakukan langkah-langkah yang hebat. Tidak sebaliknya, ingin meraih sesuatu yang besar, tetapi cara berpikir kita tidak besar. Cara berpikir yang terbalik seperti itu, sesungguhnya tidak lagi punya tempat. Dunia yang berubah sangat cepat memerlukan kecerdasan dan kearifan untuk mengelolanya. Artinya, siapa pun yang “terseret” dengan cara-cara berpikir kecil dan menginginkan hasil yang besar akan menelan kekecewaan.

Baca juga: Ketika TGB Mencicipi Pengalaman Menembak dan Bertempur ala Militer

Bagi saya, siapa pun yang akan terpilih sebagai Gubernur NTB menggantikan TGB nanti, tidak soal. Yang paling penting, pertimbangan memilihnya bukan karena asal usul. Tetapi karena kapasitas. Kekhawatirannya, jika pertimbangannya asal usul, maka kita bisa saja salah pilih. Akibatnya, masyarakat bisa menjadi korban. Padahal sebesar apa pun penyesalan tidak akan bermakna apa-apa dan sia-sia.

Cara berpikir saya tentang politik identitas bisa saja keliru. Bahkan mungkin saja seperti sebuah mimpi dan khayalan. Karena politik tidak sesederhana yang saya pikirkan. Politik itu sarat kepentingan. Sehingga sulit menemukan nilai-nilai yang ideal. Politik adalah soal kalah menang. Tidak ada urusannya dengan cara meraih kemenangan. Termasuk dengan meembangun sentimen-sentimen asal-usul dan kedaerahan.

Tetapi menurut saya, cara berpikir kita tidak harus sama. Kita tidak boleh juga mendikte cara berpikir orang lain. Saya melihatnya, politik identitas harus mencair. Tidak sebaliknya, sengaja kita kuatkan dan terus menggumpal dalam memilih pemimpin. Paling tidak, ada ikhtiar untuk mencerdaskan dan membangun kesadaran masyarakat dalam memilih pemimpinnya. Masyarakat tidak boleh terjebak dengan sentimen-sentimen etnis. Itu cara berpikir yang mundur. Tidak sesuai dengan perubahan dan kemajuan yang cepat.

Melihat nama-nama yang beredar dan disebut-sebut akan mencalonkan diri sebagai Gubernur NTB menggantikan TGB. Mereka semua adalah tokoh-tokoh hebat dari NTB. Tidak ada satu pun nama yang bukan tokoh NTB. Semuannya kelahiran NTB. Artinya, Pilkada NTB nanti bisa terselenggara dengan riang gembira dan suka cita. Semua calon bersaudara. Semua calon mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan merawat ke-NTB-an kita.

Kita pernah mempunyai gubernur yang bukan kelahiran NTB. Komitmen dan kecintaannya terhadap NTB sangat kuat. Salah satunya, kita bisa menyebut nama Gatot Soeherman. Gatot Soeherman telah mengukir sejarah yang penting bagi NTB. Gatot Soeherman dengan program gogo rancah (Gora) menjadikan NTB sebagai daerah swasembada pangan. Nama NTB harum di tingkat nasional.

Maksud saya, Gatot Soeherman yang bukan kelahiran NTB cintanya sangat kuat pada NTB. Buktinya, bekerja keras mensukseskan program Gora. Apalagi tokoh-tokoh kelahiran NTB. Mereka pasti tidak rela NTB tercederai persaudaraannya hanya karena jabatan gubernur. Saling menjaga perasaan, saling memberi “tempat” dan saling menguatkan sesama warga NTB menjadi sesuatu yang utama dan penting. Kita tidak bisa menolak, bahwa NTB terdiri dari dua pulau, Lombok dan Sumbawa. Ada tiga etnis besar, Sasak, Mbojo dan Samawa. Selain etnis-etnis lainnya, yang juga cinta pada NTB. Semua kita bersaudara. Semua kita berkewajiban dan bertanggung jawab untuk saling mendukung dan menguatkan membangun NTB.

“Polarisasi” pada kontestasi politik pasti ada. Tetapi cara kita memaknai “polarisasi” tidak boleh merusak persaudaraan kita. Memberi dukungan kepada masing-masing calon sesuai dengan pilihan politik adalah wajar. Semua calon mempunyai hak untuk berikhtiar dan berjuang memenangkan pertarungan. Yang penting, cara kita mengikhtiarkan kemenangan tidak dengan saling merendahkan dan meremehkan. Apalagi dengan mengedapankan isu primordialisme. Itu bukan cara cerdas. Tidak baik untuk pendidikan politik masyarakat.

Mendorong TGB untuk masuk pada panggung politik nasional. Pertimbangannya bukan karena asal-usul. Kalau kita bicara politik identitas. Apalagi kita maknai politik identitas sebatas asal-usul. Maka kita akan berhadapan dengan tantangan yang tidak kecil secara elektoral. Pemilih kita sangat kecil. Daerah-daerah lain yang jumlah pemilihnya lebih besar dari NTB banyak.

Nama TGB “bunyi” secara luas untuk didorong sebagai pemimpin nasional karena kapasitas dan kemampuannya. Kalau pun, ada persinggungannya dengan politik identitas. Bukan berhubungan dengan asal-usul. TGB diharapkan bisa menjadi perekat dan pemersatu bangsa yang datang dari kalangan muslim. Karena TGB adalah ulama yang cerdas, muda, kaya pengalaman dan sejuk.

Lahirnya pemimpin dengan syarat yang dimiliki TGB, mungkin merupakan kebutuhan zaman. “Kegaduhan” politik pada Pilkada Jakarta beberapa waktu lalu, memberi isyarat kepada kita tentang tantangan masa depan Indonesia yang tidak ringan. Penting kehadiran pemimpin yang bisa mengkohesikan seluruh kekuatan bangsa. Kita meski belajar untuk tidak egois. Tidak memaksa orang lain menerima kita. Sementara kita tidak bisa menerima orang lain. Artinya, jika kita ingin diterima maka menerimalah.

Ujian kita, ada pada Pilkada NTB, 2018. Harapan saya, Pilkada NTB nanti berlangsung dengan penuh kegembiraan. Kita boleh beda pilihan. Tetapi kita tetap mengekspesikan perbedaan pilihan dengan cara-cara yang santun dan cerdas. Siapa pun yang menang pada Pilkada NTB nanti, adalah kemenangan kita semua. Karena gubernur yang terpilih adalah gubernur kita semua, Gubernur NTB.***

BACA BERITA LAINNYA :

  • Soal Larangan Bawa HP, Begini Reaksi Pelajar di MataramSoal Larangan Bawa HP, Begini Reaksi Pelajar di MataramSoal Larangan Bawa HP, Begini Reaksi Pelajar di Mataram
  • Warga Banjarmasin Ini Rela ke Lombok Demi Bertemu Zakir...Warga Banjarmasin Ini Rela ke Lombok Demi Bertemu Zakir...Warga Banjarmasin Ini Rela ke Lombok Demi Bertemu Zakir…
  • Masyarakat Elukan AHY dan TGB, Begini Tanggapan Roy Sur...Masyarakat Elukan AHY dan TGB, Begini Tanggapan Roy Sur...Masyarakat Elukan AHY dan TGB, Begini Tanggapan Roy Sur…
  • TGB Bertemu Dubes Korsel, Ini yang DibahasTGB Bertemu Dubes Korsel, Ini yang DibahasTGB Bertemu Dubes Korsel, Ini yang Dibahas

Sumber: Google News

About Redaksi

Check Also

Fadli Zon Anggap MK Dimasuki Kepentingan Politik bila Tak Hapus … – KOMPAS.com

KOMPAS.com Fadli Zon Anggap MK Dimasuki Kepentingan Politik bila Tak Hapus …KOMPAS.comJAKARTA, KOMPAS.com – Wakil …